Skip to main content

Nilai Tukar Mata Uang

                Uang bukan segalanya, tetapi segalanya butuh uang. Begitu kuatnya arti uang bagi kehidupan sehingga banyak orang-orang yang sampai membela-bela mencari uang bahkan menjadikannya Tuhan. Mata uang di beberapa negara sangat berbeda, begitu juga dengan nilai tukar mata uangnya. Tetapi hal itu tidak bisa lepas dari kehidupan.

Pertukaran satu mata uang dengan mata uang lain selalu terjadi setiap detik. Ada orang-orang yang menjadikan ini sebagai sebuah permainan. Mereka bermain dengan cara membeli uang dengan uang, mengambil keuntungan dari selisih nilai tukar yang terus berubah setiap saat. Banyak yang rela menatap layar sambil memperhatikan garis dan angka-angka karena mengharapkan keuntungan semu. Mereka memikirkan keuntungan pribadi, berharap nilai mata uang negaranya sendiri melemah.

                Ada sebuah rahasia di balik perubahan nilai tukar mata uang. Neraca perdagangan memang menjadi ukuran yang menentukan nilai tukar mata uang. Namun, mengapa negara-negara barat memiliki nilai tukar yang tinggi, sedangkan luas negara mereka itu tidak seberapa? Penduduk dan kekayaan alam yang tidak seberapa. Apakah ada dalang di balik itu?

                Sedangkan mata uang negara-negara Timur selalu saja dihargai dengan sangat murah. Hal ini membuat barang-barang dari barat terkesan mewah dan mahal. Perbedaan ini hanya menguntungkan barat dan antek-anteknya. Bukankah ini tidak adil? Sebagai contoh, setiap hari kita mendapat berita mengenai pelemahan dan penguatan Rupiah. Berita yang menyedihkan bagi sebagian orang, dan menggembirakan bagi sebagian yang lain. Orang bisa bertengkar karena ini.

                Apabila dipikirkan, siapakah dalang yang menentukan nilai tukar mata uang ini? Banyak berita yang menceritakan para taipan Indonesia menukarkan sekian juta dollar simpanan mereka dengan Rupiah untuk menaikkan harga Rupiah. Mungkin hari ini Rupiah menguat, namun esok kembali melemah. Pasti ada dalang yang bermain disini. Dalang yang memainkan sebuah kepentingan dengan cara melemahkan mata uang negara lain untuk membuat negara itu gulung tikar. Dengan begitu mereka berharap dapat membeli sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan harga murah.

                Sudah lama terjadi pemaksaan alat tukar dalam perdagangan. Kadang-kadang kita berbelanja barang yang kita butuhkan di pertokoan. Barang itu belum bisa dibuat dalam jumah besar di Indonesia, sehingga para penyalur harus membelinya dari negeri China. Namun sialnya, sebagian pedagang bisa memainkan harga dengan alasan dollar sedang naik. Untuk apa menggunakan dollar amerika apabila kita membeli barang dari negeri China?

                Mereka bisa memaksa dollar agar diterima diluar negeri, namun mereka tidak mau menerima mata uang negara lain. Sama-sama uang yang dibuat dari kertas bergambar, namun nilainya berbeda. Adakah sebuah persekongkolan segelintir orang yang memaksakan alat tukar demi menjadikannya sebagai mata uang tunggal dunia? Tidak hanya uang kertas, uang digital pun ada banyak macamnya, dan harganya sangat cepat berubah. Entah siapa dalang di balik semua ini.

Logam mulia adalah uang sejati. Namun, ada segelintir kelompok yang menghalangi kita untuk menggunakan logam mulia sebagai alat tukar. Mereka takut kehilangan  kekuasaannya mengatur uang di muka bumi. Mereka terus berusaha menghisap logam mulia dan batu mulia ke dalam peti harta mereka. Dan orang-orang hanya diberikan potongan kertas dan catatan angka-angka di dunia maya. Suatu hati apabila mereka ingin membuat orang mendadak kaya atau miskin, mereka bisa melakukannya. Apabila ingin semua mendadak miskin, mereka cukup membuat uang kertas dan uang digital menjadi tidak berlaku, dan orang-orang yang mendadak miskin mereka pekerjakan dengan iming-iming uang yang sudah dicuri pelan-pelan dari para korban.

                Di dunia gaib, uang kertas bernilai sama dengan daun-daun yang gugur dari pepohonan. Daun-daun gugur yang disapu ke pinggir, daun-daun kering yang dibakar untuk menghangatkan tubuh. Adakalanya makhluk halus kelihatan lebih pintar dari kita.

                Alangkah baiknya apabila kita kembali menggunakan logam mulia seperti yang sudah diajarkan oleh para leluhur sejak beribu-ribu tahun silam. Logam mulia dengan satuan yang berlaku di Nusantara sejak zaman Sriwijaya.

Patokan keping era kerajaan Nusantara abad ke-7 untuk keping emas, perak, dan tembaga adalah:

§  1 Kupang = 0,625 gram

§  1 Ringgit = 1,25 gram

§  1 Masa = 2,5 gram

§  1 Suwarna = 40 gram emas (untuk perak dinamakan Danara)

§  1 Kati = 800 gram (biasa disebut Saketi dalam drama Majapahit)

 

Perhitungan nilai untuk keping emas dan perak adalah 1 berbanding 5.

            Logam mulia yang tidak berkurang nilainya seperti uang kertas. Mata uang emas dan perak yang selalu berharga dan tidak mudah dihancurkan. Dengan begitu, kitadapat menghapus ketidakadilan dalam pertukaran nilai uang kertas. Pertukaran yang timpang ini pasti ada dalangnya. Sang dalang yang terus berusaha keras untuk melemahkan Nusantara.

Comments

Popular posts from this blog

Ada Apa Dengan 18 April 2020??

Jagat maya dihebohkan dengan rumornya akan ada kejadian di tanggal 18 April 2020. Yah, di tanggal itulah akan ada kerusuhan yang dibuat oleh sekelompok yang mengaku manusia dengan nama ANARKO. Itu siapanya ANARKI? dan rencana mereka itu sudah terendus oleh pihak kepolisian. Rencananya kerusuhan ini akan berlangsung di pulau Jawa. Kenapa harus di pulau Jawa sih? Kalo mau mencari yang kaya, noh di pulau Kalimantan juga pada kaya. Rumor ini tentunya membuat panik masyarakat, mau pindah pulau pun percuma. Lagi pandemik Corona gini siapa yang mau terima? dan tentu saja ujung-ujung dari rumor ini sudah bisa ditebak. Apaan coba? tebak saja Kalau sebagian dari kalian menebak rencana ini menumbuhkan opini terhadap kepercayaan masyarakat ke pemerintah pusat yang seolah tidak mampu lagi menciptakan keamanan serta menjaga stabilitas ekonomi negara ini, kalian tidak salah tetapi tidak sepenuhnya benar. Dan tentu saja ujung-ujungnya adalah demo kepada pemerintahan pusat yang sah dengan berkali-kal

Mata Uang di Dunia Gaib

  Membayar dengan daun, itulah peristiwa yang terjadi dalam perniagaan yang dilakukan oleh manusia sejak puluhan tahun silam. Daun-daun itu sebenarnya hanya potongan-potongan kertas bergambar, yang dibubuhi dengan tulisan angka-angka untuk menunjukkan nilainya. Sesungguhnya itu hanyalah tipu daya belaka. Perlahan namun pasti, nilai uang itu terkikis, semakin tidak ada harganya. Kertas-kertas itu pun akan berhamburan seperti daun-daun yang gugur dari pohon. Daun-daun terus tumbuh semakin banyak, semua pohon menumbuhkan dedaunan, kemudian daun-daun itu akan berguguran. Maka, daun-daun muda akan bermunculan, sedangkan daun-daun yang berguguran itu akan disapu lalu disingkirkan. Semakin banyak daun yang gugur, maka semakin banyak yang harus disapu. Itulah perumpanaan untuk uang kertas, semakin lama semakin tidak ada harganya. Sungguh aneh tapi nyata, tak terbayangkan, sudah banyak manusia rela mempertaruhkan nyawa, kehormatan, dan harga diri untuk memperebutkan daun-daun itu. Daun yang sat

Jual Umur

  Pesugihan Jual Umur merupakan bentuk pesugihan yang menjual umur pelakunya sendiri kepada sosok penguasa gaib. Menumbalkan umur diri sendiri untuk ditukar dengan harta kekayaan. Sesungguhnya pesugihan jual umur tidak semudah yang dibayangkan orang. Pelaku harus memantapkan hati dan pasrah kepada penguasa gaib, tanpa ragu, dan tanpa memikirkan siapapun. Pesugihan macam ini tidak berbahaya bagi orang selain pelakunya sendiri. Pesugihan ini adalah pesugihan paling mahal diantara pesugihan lainnya. Saat hendak melakukan perjanjian, si pelaku dan penguasa gaib melakukan tawar-menawar. Seringkali si pelaku didampingi oleh dukun yang berperan sebagai juru kunci. Konon katanya, pelaku pesugihan macam ini adalah orang-orang yang sedang dalam keputus-asaan. Mereka memilih cara ini untuk menyudahi hidupnya daripada melakukan bunuh diri. Menukar umur dengan harta, sedangkan orang lain berusaha dengan segala cara untuk menambah jatah hidupnya. Umur adalah harta yang paling berharga bagi m