Skip to main content

Sirep

            Sirep adalah kekuatan untuk menidurkan. Sirep diajarkan untuk membantu orang yang sulit untuk tidur karena sakit. Kekuatan Sirep membuat suasana menjadi hening seolah tidak terjadi apa-apa, sehingga orang yang terkena Sirep bisa tidur lelap. Dalam bahasa Sunda, Sirep artinya Redam. Setelah diserap ke dalam bahasa Melayu, Sirep diartikan sebagai mantra untuk membuat orang tertidur.


                Sebenarnya Sirep digunakan untuk tujuan baik, seperti menyembuhkan berbagai macam penyakit, bisa juga untuk beladiri, dan mempengaruhi orang untuk mengurungkan niat jahat.

orang yang terkena Sirep ini akan merasa seluruh persendiannya menjadi lemas, kepalanya pening, dan pandangan matanya berkunang-kunang, bahkan ada yang sampai membuatnya pingsan, dan ada kalanya pula seseorang yang akan berniat jahat itu, tidak dapat melihat kepada pemilik ilmu sirep ini, begitu pula dengan rumah tempat tinggalnya.

Seseorang juga dianggap terkena Sirep bila mengalami gejala seperti rumah jadi terasa sunyi sepi, rasa kantuk yang tak tertahankan meski terbiasa tidur larut malam, burung peliharaannya sangat ribut di dalam sangkar, terdengar suara kokok ayam jantan sebelum waktunya, di atas genteng rumah terdengar suara gemerincing bila terkena sirep yang menggunakan sarana tanah kuburan. Ada bermacam-macam sarana untuk menggunakan Sirep, seperti susuk dari logam mulia, susuk dari batu mulia, kemenyan, dan minyak. Pada umumnya, orang-orang jahat menggunakan Sirep dengan sarana tanah kuburan. Karena Sirep tanah kuburan mampu membuat korbannya tidur seperti orang mati.

Sayangnya, Sirep disalahgunakan oleh penjahat untuk melakukan pencurian. Dampak pengaruh Sirep tidak selalu membuat korbannya tertidur. Misalnya ketika ingin berteriak atau bergerak, terasa seperti ada sesuatu yang menahan.

Ilmu Sirep merupakan ilmu yang sudah sangat tua dan pernah terkenal pada masanya. Pada masa kerajaan Mataram, Singasari, Majapahit, serta Pajajaran sering digunakan oleh para leluhur ketika ada acara adu kesaktian. Sirep-sirep yang cukup terkenal, dimulai dari yang terlemah sampai yang terkuat diantaranya adalah Simawung, Marutacipta, Megananda, dan Nagapasa.

Comments

Popular posts from this blog

Ada Apa Dengan 18 April 2020??

Jagat maya dihebohkan dengan rumornya akan ada kejadian di tanggal 18 April 2020. Yah, di tanggal itulah akan ada kerusuhan yang dibuat oleh sekelompok yang mengaku manusia dengan nama ANARKO. Itu siapanya ANARKI? dan rencana mereka itu sudah terendus oleh pihak kepolisian. Rencananya kerusuhan ini akan berlangsung di pulau Jawa. Kenapa harus di pulau Jawa sih? Kalo mau mencari yang kaya, noh di pulau Kalimantan juga pada kaya. Rumor ini tentunya membuat panik masyarakat, mau pindah pulau pun percuma. Lagi pandemik Corona gini siapa yang mau terima? dan tentu saja ujung-ujung dari rumor ini sudah bisa ditebak. Apaan coba? tebak saja Kalau sebagian dari kalian menebak rencana ini menumbuhkan opini terhadap kepercayaan masyarakat ke pemerintah pusat yang seolah tidak mampu lagi menciptakan keamanan serta menjaga stabilitas ekonomi negara ini, kalian tidak salah tetapi tidak sepenuhnya benar. Dan tentu saja ujung-ujungnya adalah demo kepada pemerintahan pusat yang sah dengan berkali-kal

Mata Uang di Dunia Gaib

  Membayar dengan daun, itulah peristiwa yang terjadi dalam perniagaan yang dilakukan oleh manusia sejak puluhan tahun silam. Daun-daun itu sebenarnya hanya potongan-potongan kertas bergambar, yang dibubuhi dengan tulisan angka-angka untuk menunjukkan nilainya. Sesungguhnya itu hanyalah tipu daya belaka. Perlahan namun pasti, nilai uang itu terkikis, semakin tidak ada harganya. Kertas-kertas itu pun akan berhamburan seperti daun-daun yang gugur dari pohon. Daun-daun terus tumbuh semakin banyak, semua pohon menumbuhkan dedaunan, kemudian daun-daun itu akan berguguran. Maka, daun-daun muda akan bermunculan, sedangkan daun-daun yang berguguran itu akan disapu lalu disingkirkan. Semakin banyak daun yang gugur, maka semakin banyak yang harus disapu. Itulah perumpanaan untuk uang kertas, semakin lama semakin tidak ada harganya. Sungguh aneh tapi nyata, tak terbayangkan, sudah banyak manusia rela mempertaruhkan nyawa, kehormatan, dan harga diri untuk memperebutkan daun-daun itu. Daun yang sat

Jual Umur

  Pesugihan Jual Umur merupakan bentuk pesugihan yang menjual umur pelakunya sendiri kepada sosok penguasa gaib. Menumbalkan umur diri sendiri untuk ditukar dengan harta kekayaan. Sesungguhnya pesugihan jual umur tidak semudah yang dibayangkan orang. Pelaku harus memantapkan hati dan pasrah kepada penguasa gaib, tanpa ragu, dan tanpa memikirkan siapapun. Pesugihan macam ini tidak berbahaya bagi orang selain pelakunya sendiri. Pesugihan ini adalah pesugihan paling mahal diantara pesugihan lainnya. Saat hendak melakukan perjanjian, si pelaku dan penguasa gaib melakukan tawar-menawar. Seringkali si pelaku didampingi oleh dukun yang berperan sebagai juru kunci. Konon katanya, pelaku pesugihan macam ini adalah orang-orang yang sedang dalam keputus-asaan. Mereka memilih cara ini untuk menyudahi hidupnya daripada melakukan bunuh diri. Menukar umur dengan harta, sedangkan orang lain berusaha dengan segala cara untuk menambah jatah hidupnya. Umur adalah harta yang paling berharga bagi m