Skip to main content

Pemusnahan Budaya

               


Sudah begitu lama Nusantara dan leluhurnya banyak menghadapi gangguan orang asing, sebut saja orang-orang Timur Tengah dan orang-orang barat. Dalam pelajaran sejarah, ada ajaran sesat yang seringkali diajarkan, dan ajaran itu berasal dari pengetahuan barat. Mereka mengatakan bahwa dahulu kala peradaban manusia itu primitive, tidak maju seperti masa kini. Namun, masa lalu tidak selalu seperti itu. Peradaban itu terus berkembang, dan sempat runtuh sehingga kembali ke zaman batu. Namun, sebagian sarjana barat seringkali menyangkal segala pendapat dan bukti-bukti tentang ini. Mereka menyangkal apabila bukti itu tidak datang dari bangsa kulit putih. Mereka merasa hanya bangsanya yang merupakan pusat peradaban dan ilmu pengetahuan.

                Jauh sebelum kutukan Kebo Iwa menjadi kenyataan. Pernah ada suatu masa kebudayaan dan ilmu pengetahuan manusia jauh melampaui yang kita rasakan sekarang. Masa itu adalah zaman Lemuria, sebuah kemaharajaan yang dipercaya sebagai leluhur penduduk Nusantara. Masa itu terjadi ketika masih ada daratan luas yang disebut daratan Sunda, dan tetangganya daratan Sahul. Singkat cerita, karena rasa cemburu, iri hati, dan dendam, Atlantis yang di masa itu merupakan negeri bawahan Lemuria melakukan pemberontakan besar-besaran. Mereka berperang melawan Lemuria untuk merebut kekuasaan. Atlantis berhasil melakukannya, namun ketika itu mereka tenggelam ditelan oleh lautan. Sedangkan sebagian penduduk Lemuria sudah mengungsi diri ke dunia lain,, naik dengan kapal antar bintang, maupun dengan ilmu gaib. Apabila memenangkan perang, Atlantis tidak hanya membunuh musuh di medan laga, mereka pun berusaha melenyapkan kebudayaan musuhnya, agar di masa depan, mereka dianggap sebagai orang-orang yang memiliki budaya paling maju.

                Pemusnahan budaya masih terus dilakukan oleh sebagian bangsa ras kulit putih dengan segala macam cara, yaitu dengan mengaburkan sejarahnya, Hancurkan bukti-bukti sejarahnya agar tak bisa dibuktikan kebenarannya, Putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya, katakan bahwa leluhurnya itu bodoh dan primitive. Sadar atau tidak, mereka melakukannya terhadap orang-orang timur jauh, terutama terhadap Nusantara. Maka kita tidak bisa tinggal diam. Di zaman Majapahit, setelah Gajah Mada mengalahkan Kebo Iwa, dari mulut Kebo Iwa keluar sebuah kutukan untuk Nusantara. Kutukan itu mengatakan “negeri yang dibangun oleh Gajah Mada dan keturunannya akan dijajah bangsa kulit putih sampai kapan pun”. Pasti ada cara untuk melenyapkan kutukan itu untuk selamanya.

                Dan di masa kini, ada saja orang-orang yang mengaburkan sejarah, dilakukan oleh orang asing dengan kedok kemajuan zaman dan kedok agama. Orang-orang barat merasa bangsanya sebagai penemu segala macam ilmu pengetahuan, sedangkan orang-orang timur tengah merasa bangsanya adalah bangsa paling suci. Dahulu mereka datang untuk berdagang, kemudian mereka terlena dengan kekayaan Nusantara, sehingga maksud baik untuk berdagang berubah menjadi haus kekuasaan.

                Mereka mengatakan bahwa kebudayaan leluhur Nusantara itu adalah aliran sesat, tidak beragama, tidak masuk akal, memuja setan, ketinggalan zaman, dan segala tuduhan lainnya. Sedangkan mereka sendiri tidak mau bercermin.         

Barat pernah memeras Nusantara setelah runtuhnya Majapahit karena pemberontakan, pertentangan agama baru, dan perang saudara. Dengan begitu, kutukan Kebo Iwa sudah menjadi kenyataan. Bermula dari serbuan Portugis, kemudian Spanyol, Belanda, dan Inggris yang datang menyusul. Tentu saja mereka pun saling berperang memperebutkan kekayaan Nusantara. Tidak lupa menggunakan para sultan yang saling bermusuhan demi kepentingan masing-masing. Entah bagaimana Kebo Iwa menilai watak orang barat, tampaknya orang barat dipandang sebagai bangsa rendah di Nusantara. Para sultan dari kerajaan-kerajaan islam di Nusantara bagai kerbau dicocok hidung apabila berhadapan dengan barat. Mereka saling berperang tanpa tujuan yang jelas, hanya mementingkan kepentingan pribadi saja meski pun memberikan rakyat sebagai tumbal untuk para penjajah.

Namun, setelah penjajahan Belanda berlalu, sebagian orang merasa rendah diri apabila bertemu dengan bule. Sungguh memalukan apabila merasa rendah diri di hadapan orang asing. Barat datang mengatakan bangsanya membawa kemajuan zaman. Mereka melakukan pembaratan dimana-mana, pengetahuan warisan leluhur timur jauh mereka anggap sudah tertinggal. Timur tengah menyebarkan budaya mereka menggunakan kedok agama, menuduh pengetahuan warisan leluhur timur jauh sebagai perbuatan musrik. Mereka semua menginginkan timur jauh, khususnya Nusantara meninggalkan kebudayaan aslinya dan mengikuti kebudayaan asing yang mereka bawa.

Mereka terus berusaha membuat penduduk Nusantara dengan para leluhur. Mereka mengatakan leluhur Nusantara itu bodoh, primitive, tidak beradab, penyembah berhala, dan segala macam tuduhan buruk. Barat dan timur tengah terus berebut pengaruh di Nusantara, dimulai dengan hal yang dianggap sepele sampai ke hal-hal dianggap sangat penting.

Contohnya adalah pemberian nama, dengan menggunakan kedok agama, orang-orang asing itu mengajak penduduk Nusantara untuk memberi nama anak-anak dengan nama-nama berbau barat atau arab. Sedangkan nama menandakan asal seseorang, dimanakah dia lahir, dimanakah dia dibesarkan, apa sukunya, dan apa negaranya.

Setelah mengganti nama orang, mereka berusaha mengganti cara berpakaian. Barat menggunakan kedok zaman modern, sedangkan timur tengah menggunakan kedok agama. Sedikit demi sedikit, penduduk Nusantara menganggap pakaian mereka tidak bergengsi, mereka lebih senang mengenakan pakaian orang asing di negeri sendiri. Apabila harus menggunakan pakaian Nusantara, sebagian penduduk Nusantara memakainya dengan melanggar pakem. Contohnya mengganti konde dengan kain yang menutupi seluruh rambut.

Tidak hanya itu, penduduk yang terpengaruh akan menekan penduduk yang mempertahankan budaya leluhurnya. Tidak jarang mereka dikucilkan dan ditindas oleh orang-orang yang merasa bangga berbudaya asing. Perkara terbaru ini, seorang pemuka agama asal Malaysia menuduh lagu Lathi sebagai lagu untuk memanggil Kuntilanak. Tuduhan yang tidak terbukti kebenarannya.

Ada dua negara di Nusantara yang kehilangan jati diri, yaitu Malaysia dan Filipina. Gejalanya dapat dilihat dari pemberian nama anak dan cara berpakaian. Di Malaysia banyak orang yang mengaku suku Melayu, namun penduduknya banyak yang memiliki nama timur tengah dan berpakaian seperti timur tengah. Sedangkan Filipina, penduduknya banyak yang memiliki nama barat dan berpakaian kebarat-baratan, namun mereka terdiri dari macam-macam suku.

Beruntunglah Indonesia selalu mempertahankan warisan para leluhur. Apabila memiliki anak, orang tua memberikan nama dari Bahasa sukunya masing-masing, Bahasa Melayu, atau Sanskerta. Kebudayaan pun terus dilestarikan, dimurnikan, dan dikembalikan ke pakemnya. Sejarah pun selalu diperhatikan, dijaga, dan dipertahankan meski negara tetangga seringkali menyangkal kebenarannya.

Jangan biarkan para penjajah menulis ulang sejarah Nusantara dengan cerita sesat mereka. Walau bagaimana pun, sejarah ditulis oleh pemenang perang, leluhur kita adalah pemenang perang. Penjajahan masa kini tidak hanya dengan perang, bisa juga dengan cara menjajah keuangan, kepercayaan, bahkan melakukan penjajahan terhadap budaya.

Comments

Popular posts from this blog

Ada Apa Dengan 18 April 2020??

Jagat maya dihebohkan dengan rumornya akan ada kejadian di tanggal 18 April 2020. Yah, di tanggal itulah akan ada kerusuhan yang dibuat oleh sekelompok yang mengaku manusia dengan nama ANARKO. Itu siapanya ANARKI? dan rencana mereka itu sudah terendus oleh pihak kepolisian. Rencananya kerusuhan ini akan berlangsung di pulau Jawa. Kenapa harus di pulau Jawa sih? Kalo mau mencari yang kaya, noh di pulau Kalimantan juga pada kaya. Rumor ini tentunya membuat panik masyarakat, mau pindah pulau pun percuma. Lagi pandemik Corona gini siapa yang mau terima? dan tentu saja ujung-ujung dari rumor ini sudah bisa ditebak. Apaan coba? tebak saja Kalau sebagian dari kalian menebak rencana ini menumbuhkan opini terhadap kepercayaan masyarakat ke pemerintah pusat yang seolah tidak mampu lagi menciptakan keamanan serta menjaga stabilitas ekonomi negara ini, kalian tidak salah tetapi tidak sepenuhnya benar. Dan tentu saja ujung-ujungnya adalah demo kepada pemerintahan pusat yang sah dengan berkali-kal

Mata Uang di Dunia Gaib

  Membayar dengan daun, itulah peristiwa yang terjadi dalam perniagaan yang dilakukan oleh manusia sejak puluhan tahun silam. Daun-daun itu sebenarnya hanya potongan-potongan kertas bergambar, yang dibubuhi dengan tulisan angka-angka untuk menunjukkan nilainya. Sesungguhnya itu hanyalah tipu daya belaka. Perlahan namun pasti, nilai uang itu terkikis, semakin tidak ada harganya. Kertas-kertas itu pun akan berhamburan seperti daun-daun yang gugur dari pohon. Daun-daun terus tumbuh semakin banyak, semua pohon menumbuhkan dedaunan, kemudian daun-daun itu akan berguguran. Maka, daun-daun muda akan bermunculan, sedangkan daun-daun yang berguguran itu akan disapu lalu disingkirkan. Semakin banyak daun yang gugur, maka semakin banyak yang harus disapu. Itulah perumpanaan untuk uang kertas, semakin lama semakin tidak ada harganya. Sungguh aneh tapi nyata, tak terbayangkan, sudah banyak manusia rela mempertaruhkan nyawa, kehormatan, dan harga diri untuk memperebutkan daun-daun itu. Daun yang sat

Jual Umur

  Pesugihan Jual Umur merupakan bentuk pesugihan yang menjual umur pelakunya sendiri kepada sosok penguasa gaib. Menumbalkan umur diri sendiri untuk ditukar dengan harta kekayaan. Sesungguhnya pesugihan jual umur tidak semudah yang dibayangkan orang. Pelaku harus memantapkan hati dan pasrah kepada penguasa gaib, tanpa ragu, dan tanpa memikirkan siapapun. Pesugihan macam ini tidak berbahaya bagi orang selain pelakunya sendiri. Pesugihan ini adalah pesugihan paling mahal diantara pesugihan lainnya. Saat hendak melakukan perjanjian, si pelaku dan penguasa gaib melakukan tawar-menawar. Seringkali si pelaku didampingi oleh dukun yang berperan sebagai juru kunci. Konon katanya, pelaku pesugihan macam ini adalah orang-orang yang sedang dalam keputus-asaan. Mereka memilih cara ini untuk menyudahi hidupnya daripada melakukan bunuh diri. Menukar umur dengan harta, sedangkan orang lain berusaha dengan segala cara untuk menambah jatah hidupnya. Umur adalah harta yang paling berharga bagi m