Skip to main content

Bahan Pembuatan Keris



Keris merupakan senjata tikan yang tajam. Keris bisa berbentuk seperti pisau atau pedang, bergantung panjangnya. Bentuk keris sendiri ada yang lurus, ada pula yang berkelok. Jumlah kelokan keris selalu ganjil. Misalnya 3, 5, 7, 9, 11, atau 13. Keris dibuat oleh para pandai besi yang bergelar Mpu. Mereka mengerjakan pembuatan keris dengan sangat teliti.

                Para Mpu pembuat keris seringkali menggunakan bahan-bahan terbaik. Tidak jarang, mereka mengambil bahan-bahan dari batu kemukus yang jatuh dari langit. Dahulu kala para Mpu sering mengamati banyak benda langit. Ketika melihat batu kemukus jatuh, maka mereka mencarinya dengan cara penyelarasan alam. Cara bertapa para Mpu adalah cara yang biasa dilakukan untuk mencari dan memilih logam.

                Keberadaan para Mpu sebagai pandai besi biasanya merupakan pekerjaan turun-temurun. Tidak hanya dikenal sangat pandai dalam seni mengolah logam. Mereka juga memiliki pengetahuan tentang sastra, cerita asal-usul, kejiwaan, dan ilmu gaib. Oleh karena itu, para Mpu sangat dihormati. Keris tidak hanya dimiliki oleh laki-laki, perempuan juga memilikinya.

                Banyak keris yang mengandung tuah. Mpu yang membuat keris sudah membacakan mantra-mantra sehingga keris mengandung tuah. Para Mpu tidak mengisinya dengan makhluk halus, tuah itu berasal dari kekuatan mantra-mantra yang dibacakan. Bentuk, corak, ukiran, dan mantra-mantra yang dibacakan mengandung tujuan pembuatan keris itu. Seni pengolahan logam di Nusantara lebih maju 600 tahun dari seni pengolahan logam di Eropa.

                Konon, ada Mpu yang membuat keris dengan cara memijat-mijat logam. Pada dasarnya,sebilah keris terdiri dari tiga macam unsur logam, besi, baja, dan pamor. Ada pula keris tanpa pamor yang hanya terbuat dari besi dan baja. Seorang Mpu akan memilih bahan terbaik untuk memperoleh hasil terbaik. Besi berusia tua akan menghasilkan keris yang baik karena karat besi berusia tua tidak sebanyak karat besi berusia muda.

                Nusantara sudah mengenal berbagai macam besi tanpa melewati zaman perunggu. Seni tampa besi Nusantara sangat baik. Para leluhur memiliki pengetahuan luas seputar besi. Tidak hanya dalam menempa saja, perbedaan besi juga mereka ketahui. Pengetahuan ini mengandalkan kepekaan rasa dan panca indra. Leluhur orang Jawa mampu membedakan besi dengan cara mengamati, mendengarkan bunyi manakala besi itu dijentik, meraba bilahnya, serta melalui perasaan hatinya. Tidak heran pengetahuan ini sulit dipelajari dan tidak mudah untuk dicatat secara rinci.

Comments

Popular posts from this blog

Ada Apa Dengan 18 April 2020??

Jagat maya dihebohkan dengan rumornya akan ada kejadian di tanggal 18 April 2020. Yah, di tanggal itulah akan ada kerusuhan yang dibuat oleh sekelompok yang mengaku manusia dengan nama ANARKO. Itu siapanya ANARKI? dan rencana mereka itu sudah terendus oleh pihak kepolisian. Rencananya kerusuhan ini akan berlangsung di pulau Jawa. Kenapa harus di pulau Jawa sih? Kalo mau mencari yang kaya, noh di pulau Kalimantan juga pada kaya. Rumor ini tentunya membuat panik masyarakat, mau pindah pulau pun percuma. Lagi pandemik Corona gini siapa yang mau terima? dan tentu saja ujung-ujung dari rumor ini sudah bisa ditebak. Apaan coba? tebak saja Kalau sebagian dari kalian menebak rencana ini menumbuhkan opini terhadap kepercayaan masyarakat ke pemerintah pusat yang seolah tidak mampu lagi menciptakan keamanan serta menjaga stabilitas ekonomi negara ini, kalian tidak salah tetapi tidak sepenuhnya benar. Dan tentu saja ujung-ujungnya adalah demo kepada pemerintahan pusat yang sah dengan berkali-kal

Mata Uang di Dunia Gaib

  Membayar dengan daun, itulah peristiwa yang terjadi dalam perniagaan yang dilakukan oleh manusia sejak puluhan tahun silam. Daun-daun itu sebenarnya hanya potongan-potongan kertas bergambar, yang dibubuhi dengan tulisan angka-angka untuk menunjukkan nilainya. Sesungguhnya itu hanyalah tipu daya belaka. Perlahan namun pasti, nilai uang itu terkikis, semakin tidak ada harganya. Kertas-kertas itu pun akan berhamburan seperti daun-daun yang gugur dari pohon. Daun-daun terus tumbuh semakin banyak, semua pohon menumbuhkan dedaunan, kemudian daun-daun itu akan berguguran. Maka, daun-daun muda akan bermunculan, sedangkan daun-daun yang berguguran itu akan disapu lalu disingkirkan. Semakin banyak daun yang gugur, maka semakin banyak yang harus disapu. Itulah perumpanaan untuk uang kertas, semakin lama semakin tidak ada harganya. Sungguh aneh tapi nyata, tak terbayangkan, sudah banyak manusia rela mempertaruhkan nyawa, kehormatan, dan harga diri untuk memperebutkan daun-daun itu. Daun yang sat

Jual Umur

  Pesugihan Jual Umur merupakan bentuk pesugihan yang menjual umur pelakunya sendiri kepada sosok penguasa gaib. Menumbalkan umur diri sendiri untuk ditukar dengan harta kekayaan. Sesungguhnya pesugihan jual umur tidak semudah yang dibayangkan orang. Pelaku harus memantapkan hati dan pasrah kepada penguasa gaib, tanpa ragu, dan tanpa memikirkan siapapun. Pesugihan macam ini tidak berbahaya bagi orang selain pelakunya sendiri. Pesugihan ini adalah pesugihan paling mahal diantara pesugihan lainnya. Saat hendak melakukan perjanjian, si pelaku dan penguasa gaib melakukan tawar-menawar. Seringkali si pelaku didampingi oleh dukun yang berperan sebagai juru kunci. Konon katanya, pelaku pesugihan macam ini adalah orang-orang yang sedang dalam keputus-asaan. Mereka memilih cara ini untuk menyudahi hidupnya daripada melakukan bunuh diri. Menukar umur dengan harta, sedangkan orang lain berusaha dengan segala cara untuk menambah jatah hidupnya. Umur adalah harta yang paling berharga bagi m